Translator Jawa - Ngoko, Lugu, Krama, Alus, Pasar

Translate Bahasa Jawa

Pilih mode translate, lalu ketik teks yang ingin kamu terjemahkan.

Powered by jowopedia.com

Panduan Penggunaan Aplikasi Translator Bahasa Jawa

Terdapat beberapa pilihan mode yang memudahkan kamu untuk Menerjemahkan Bahasa Jawa ke Indonesia ataupun sebaliknya, mode yang tersedia diantaranya:

  1. Jawa ke Indonesia
  2. Indonesia ke Bahasa Jawa Ngoko
  3. Indonesia ke Bahasa Jawa Krama Alus
  4. Indonesia ke Bahasa Jawa Kramantara (Lugu)
  5. Indonesia ke Bahasa Jawa Wredha-krama (Lugu)
  6. Indonesia ke Bahasa Jawa Krama Pasar

Setelah kamu memilih Mode, lanjut ke form input, tepat di bawah Pilihan Mode, kemudian ketik atau tuliskan kata apa saja pada area form input, kamu tidak perlu klik tombol apapun untuk mendapatkan hasil translate, ini sudah otomatis sehingga sangat memudahkan kamu menerjemahkan. Kamu dapat dengan mudah menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa jawa dan sebaliknya bahasa jawa ngoko ke bahasa Indonesia. Karena Aplikasi ini dapat menjadi alternatif google translate bahasa jawa krama alus, karena saat ini google translate belum menyediakan fitur bahasa jawa krama alus / krama ngoko.


Pembagian Bahasa Jawa

Sama halnya dengan adanya fitur-fitur distingtif linguistik antara bahasa satu dengan bahasa lain, realisasi dari fungsi bahasa berbeda dari bahasa satu masyarakat tutur dengan masyarakat tutur yang lain. Salah satu fungsi bahasa yang realisasinya bersifat spesifik-bahasa adalah fungsi bahasa sebagai identifikasi sosial di dalam suatu masyarakat dengan memberikan indikator-indikator lingusitik yang bisa digunakan untuk mendorong adanya stratifikasi sosial. Seperti misalnya variasi bahasa ngoko, krama, dan madya merupakan tingkat tutur yang merefleksikan identitas sosial yang terekam dalam sebuah komunikasi dalam bahasa Jawa (Uhlenbeck, 1982), dan bentuk tu/vous merupakan realisasi identitas sosial hubungan tinggi rendah dalam bentuk sapaan dalam bahasa Jerman. Bahasa jawa dibagi menjadi dua bagian diantaranya yaitu ngoko dan kromo. Bahasa Ngoko digunakan untuk orang yang lebih tua kepada yang lebih muda atau kepada teman sepantaran. Sedangkan bahasa Kromo digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya. Maksud dari lebih tinggi derajatnya adalah orang Jawa masih mengenal suatu sistem kasta, yang mana orang yang memiliki darah biru (keturunan keraton) dan memiliki jabatan tinggi disebut orang yang tinggi derajatnya, namun dua bagian tersebut hanya di mengerti oleh orang yang sudah mahir bahasa jawa, agar lebih mudah untuk kamu memahami, di bawah ini adalah dua bagian Bahasa jawa diantaranya Bahasa Jawa Lama dan Bahasa Jawa baru, berikut lengkapnya:

Bahasa Jawa Lama

Bahasa jawa lama atau krama, bahasa ini menggunakan kata krama. Contoh awalan krama adalah dipun-, sedangkan akhiran krama adalah -ipun dan -aken. Pemakaiannya digunakan untuk berbicara dengan orang yang dihormati, orang yang lebih tua, dan orang yang belum akrab. lama dibagi lagi menjadi tiga, yaitu: mudha krama, kramantara dan wredha krama.

1. Mudha krama

Mudha krama adalah bahasa jawa krama yang mencampurkan krama inggil dengan awalan dan akhiran krama. Contohnya seperti kata ganti orang kedua yaitu panjenengan atau sampeyan. Mudha krama biasanya digunakan ketika seseorang berbicara kepada orang yang lebih tua, seperti anak kepada orang tua, murid kepada guru, priyayi dengan sesama priyayi atau yang berpangkat lebih tinggi.

Contoh penggunaan mudha krama seperti:

Panjenengan punapa karsa kula aturi dhahar ulam menda?
Sampeyan punapa karsa pinarak ing griya kula?

2. Kramantara

Kramantara adalah bahasa jawa krama yang menggunakan kata awalan dan akhiran krama seperti dipun.., ..nipun dan ..(k)aken. Kramantara biasanya digunakan ketika berbicara dengan orang yang memiliki pangkat, kedudukan, sekolah, atau umur yang sama. Selain itu juga bisa digunakan untuk orang tua yang berbicara kepada orang yang lebih muda tanpa pangkat dan bukan saudara.

Contoh penggunaan kramantara seperti:

Kala wingi sampéyan rak sampun kula criyosi, bilih kula boten saged dhateng sadèrèngipun jam sadasa

3. Wredha-krama

Wredha krama adalah bahasa jawa yang menggunakan awalan dan akhiran ngoko, diantaranya: ko.., dak.., di.., ..mu, ..ku, ..(n)e dan ..(k)ake. Wredha krama biasanya digunakan oleh orang tua yang berbicara kepada orang yang lebih muda.

Contoh penggunaan Wredha krama seperti:

Jambu abrit kula tedha sampéyan kintunaké mangké sonten, epahané kang bekta mangké kula bayaré saking kula kémawon.

Bahasa Jawa Baru

Bahasa jawa baru yang saat ini populer dikalangan masyarakat jawa adalah bahasa krama lugu dan krama alus, bahasa ini biasanya digunaan dalam kehidupan sehari hari, ngoko biasa di gunakan dengan teman yang sudah akrab, Krama lugu dan Krama alus, untuk orang yang tidak terlalu akrab karena lebih sopan di bandingkan dengan ngoko.

1. Krama Lugu

Krama lugu adalah bahasa yang awalan dan akhirannya berbentuk krama. Krama lugu memiliki kesamaan dengan kramantara dalam bahasa jawa lama.

2. Krama Alus

Krama alus adalah bahasa jawa yang awalan dan akhirnya berbentuk krama dengan campuran krama inggil dan krama andhap. Krama alus memiliki kesamaan dengan mudha krama yang lama.

Tingkatan Bahasa Jawa

Di dalam bahasa jawa, perlu kamu tahu tingkatan bahasa jawa. Tingkatan bahasa jawa ini digunakan sesuai dengan siapa kita berbicara seperti yang sudah di jelaskan di atas. Tingkatan bahasa jawa dibagi menjadi tiga, diantaranya:

1. Ngoko
Ngoko adalah tingkatan bahasa jawa yang menggunakan kata awalan dan akhiran ngoko. Contohnya seperti dak.., ko.., di… Sedangkan akhiran ngoko contohnya adalah ..ku, ..mu, ..(n)e, dan ..(k)ake. Bahasa ngoko biasanya digunakan kepada orang yang sudah akrab atau dengan orang yang lebih muda, jadi buat kamu yang sedang belajar bahasa jawa, hindari menggunakan bahasa ngoko untuk orang yang lebih tua atau jabatan lebih tinggi. Dalam bahasa ngoko, terdapat pula pembagian, yaitu ngoko lama dan ngoko baru. Namun ini hanya menggambil pembagian ngoko baru, sesuai dengan aplikasi translate bahasa jawa ini. Dalam ngoko baru, terdapat dua jenis, yaitu:

  • Ngoko lugu, yaitu bahasa ngoko yang kata awalan dan akhiran nya ngoko.
  • Ngoko alus, yaitu bahasa ngoko yang dicampur dengan krama inggil atau krama andhap.

2. Madya
Madya adalah tingkatan bahasa jawa yang terdapat dalam bahasa jawa versi lama. Tingkatan madya menggunakan kata madya yang awalan dan akhirannya ngoko. Saat ini madya seringkali dianggap seperti bahasa krama yang tidak alus dan tidak baku, maka dari itu madya sering disebut krama madya. Madya masih dibagi menjadi tiga jenis, diantaranya:

  • Madya ngoko, yaitu bahasa madya yang awalan dan akhirannya adalah ngoko.
  • Madya krama, yaitu bahasa madya dan krama yang awalan dan akhirannya ngoko, seperti “Mang nedha sekul abrit”
  • Madyantara, yaitu bahasa madya yang menggunakan kata madya, krama, krama inggil dan menggunakan awalan dan akhiran ngoko.

3. Krama
Krama adalah tingkatan bahasa jawa yang menggunakan kata bahasa krama, tingkatan ini adalah tingkatan paling sopan untuk berbicara kepada yang lebih tua atau yang memiliki pangkat lebih tinggi. Awalan yang digunakan dalam bahasa krama adalah dipun.. dan akhirannya adalah ..(n)ipun dan ..(k)aken. Saat ini krama sering kali dibagi hanya menjadi dua, yaitu krama lugu dan krama alus.

Terdapat perbedaan Krama Lugu dan Krama Alus. Krama Lugu adalah bahasa jawa sopan namun bukanlah yang paling sopan, krama lugu juga bisa disebut krama madya. Sedangkan Krama Alus adalah bahasa jawa yang paling sopan. Krama alus juga disebut krama inggil atau krama (kromo). Krama lugu biasa dipakai untuk berbicara sopan dengan orang yang sederajat, namun tidak cocok buat berbicara dengan orang yang derajat nya lebih tinggi. Sedangkan krama alus biasanya digunakan untuk berbicara dengan orang yang derajatnya lebih tinggi, seperti guru, orang tua, atau pemimpin.

Belajar bahasa jawa penting untuk kamu yang ingin atau akan tinggal dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya berbahasa Jawa, baik itu untuk kepentingan pekerjaan ataupun untuk kepentingan lainnya. Dengan mengenal sedikit dasar tentang bahasa jawa, diharapkan nantinya kamu lebih mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan disekitar. Atau setidaknya ada kata yang dimengerti ketika kamu mendengar orang lain disekitarmu berbicara dalam bahasa ini. Untuk itu, Mari kita langsung saja kenalan dengan Kosakata Bahasa Jawa yang sering digunakan baik itu yang halus maupun kasar. Dibawah ini adalah tabel perbandingan kosakata ngoko, krama lugu dan krama alus.

IndonesiaNgokoKrama LuguKrama Alus
MakanManganNedhaDhahar
BeliTukuTumbasMundhut
OmonganCaturanWicantenNgendika
DudukLinggihLenggahPinarak
TinggiDhuwurInggilLuhur
BenarBenerLeresKasinggihan
JalanMlakuMlampahTindak
SembuhMariMantunDhangan
SakitLaraSaketGerah
PunyanduweGadhahKagungan
MelihatNdelokNingaliMriksani
DengarKrunguMirengMidhanget
KelupaanKelalenKesupenKalimengan
MemberiNgewehiNyukaniMaringi
SayaAkuKuloDalem
LewatLiwatLangkungMiyos
DahuluBiyenRiyinRumiyin
IkutMeluTumutDherek
MauArepAjengKersa

Contoh Kalimat Krama Lugu dan Krama Alus, dibawah ini contoh kalimat krama lugu dan krama alus dalam bahasa jawa.

Krama Lugu:

  • Sampun jam sedasa budhe dereng tilem
  • Kula adus toya anget
  • Kula dipuntumbasaken buku bapak
  • Kula kesupen mboten nggarap pr
  • Kula ningali TV, bapak sare wonten kamar

Krama alus:

  • Soalipun angel sanget, kula mboten saged nggarap
  • Ibu kula ngunjuk es degan
  • Bapak mirsani bal-balan
  • Pakdhe remen dhahar tempe
  • Kula dipunpundhutaken buku bapak

Sistem Penulisan

Sistem penulisan bahasa jawa baru atau bahasa jawa moderen dibagi menjadi tiga, yaitu: aksara jawa, abjad pegon dan alfabet latin.

Aksara Jawa
Aksara jawa adalah aksara yang memiliki rumpun brahma, merupakan turunan dari aksara pallawa lewat aksara kawi. Aksara jawa muncul pada abad 16 di era keemasan majapahit. Saat ini, mungkin banyak dari kamu yang seringkali menjumpai penggunaan aksara jawa di daerah surakarta dan yogyakarta, seperti penggunaan untuk kalimat pendamping papan nama jalan dan papan informasi di tempat umum.

Abjad Pegon
Abdjad pegon adalah aksara jawa yang bersaudara dengan abjad jawi (arab-melayu). Abjad pegon muncul ketika Islam masuk ke wilayah nusantara pada masa kerajaan. Abjad pegon mengadopsi huruf-huruf arab yang ditambah dengan huruf-huruf baru yang tidak ada dalam abjad arab. Pegon artinya “Menyimpang”, maksudnya bahasa jawa yang ditulis dengan abjad arab yang menyimpang dari yang seharusnya. Abjad pegon bisa digunakan dengan harakat atau tidak, pegon yang tidak berharakat disebut gundhil. Sekarang, abjad pegon masih sering kita jumpai di pondok pesantren, karena masuk termasuk materi yang di ajarkan

Aksara Lain
Aksara lain yang dikenal pernah digunakan dalam bahasa jawa adalah aksara kawi dan aksara nagari. Aksara ini ditemukan pada prasasti-prasasti dari abad ke hingga abad ke 16. Aksara Jawa Kuno atau Aksara Kawi (dari bahasa Sanskerta: kavi, yang berarti “pujangga”) adalah aksara historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara Aksara Kawi menerapkan sistem penulisan abugida. Tiap hurufnya merepresentasikan sebuah suku kata dengan vokal /a/ yang dapat diubah dengan penggunaan tanda baca. Aksara ditulis tanpa spasi (scriptio continua). Aksara Kawi memiliki sekitar 47 huruf, tetapi terdapat sejumlah huruf yang bentuk dan penggunaannya tidak diketahui pasti karena sedikitnya contoh yang ditemukan dalam prasasti bertulis Kawi.